ENGELS ANTI DUHRING PDF

Banyak orang sudah mengetahui ini. Apa tahapan pertama yang harus kita lakukan agar bisa disebut berpikir secara materialisme dialektis? Dalam tulisan sebelumnya , kita sudah mengetahui bahwa Engels menuliskan Anti-Duhring untuk meletakkan landasan ilmiah dari filsafat materialisme dialektika. Sebelum mempelajari dialektika, tentu saja kita harus memahami maksud dari materialisme terlebih dahulu.

Author:Doubei Samukasa
Country:Malawi
Language:English (Spanish)
Genre:Education
Published (Last):16 April 2009
Pages:84
PDF File Size:16.59 Mb
ePub File Size:9.97 Mb
ISBN:623-5-87542-397-2
Downloads:9778
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Zulugis



Banyak orang sudah mengetahui ini. Apa tahapan pertama yang harus kita lakukan agar bisa disebut berpikir secara materialisme dialektis? Dalam tulisan sebelumnya , kita sudah mengetahui bahwa Engels menuliskan Anti-Duhring untuk meletakkan landasan ilmiah dari filsafat materialisme dialektika. Sebelum mempelajari dialektika, tentu saja kita harus memahami maksud dari materialisme terlebih dahulu.

Dalam kritik terhadap filsafat Herr Duhring, Engels akan memaparkan pengertiannya terhadap materialisme itu sendiri. Materialisme adalah pengetahuan yang muncul dari interaksi manusia dengan alam untuk memenuhi kebutuhannya. Untuk memahami maksud ini secara perinci, kita akan mengulik pemahaman Engels mengenai filsafat yang dimaksudkan Herr Duhring serta metode yang digunakan. Selanjutnya, kita akan melihat bagaimana Engels mengkritik pandangan Herr Duhring hingga sampai pada kesimpulan mengenai materialisme.

Pengertian Filsafat menurut Herr Duhring Agar memahami posisi Herr Duhring, ada baiknya kita memulai dari pengertiannya terhadap filsafat terlebih dahulu. Tentu saja, pemahamannya tentang filsafat akan lengkap jika kita juga melacak metode berfilsafat yang digunakannya. Filsafat dan Prinsip-prinsip Pengetahuan Filsafat, menurut Herr Duhring, adalah bentuk perkembangan tertinggi dari kesadaran mengenai dunia dan kehidupan.

Jika mengacu pada definisi ini, Herr Duhring mengasumsikan bahwa kesadaran manusia berkembang secara bertahap. Namun sampai sejauh ini, Engels belum menunjukkan tahapan perkembangan kesadaran seperti yang dimaksudkan Duhring.

Saya hanya bisa menduga bahwa tahapan sebelumnya ada pada logika dan matematika. Tahapan perkembangan ini sampai pada puncak tertinggi karena dibantu oleh anak tangga yang bernama prinsip-prinsip pengetahuan.

Prinsip pengetahuan yang dimaksud oleh Herr Duhring adalah segala hal yang melingkupi dunia pengetahuan dan kehendak. Jadi, jika kesadaran manusia menangkap sesuatu dengan landasan prinsip-prinsip tersebut, maka hal tersebut adalah objek dari filsafat. Serangkaian prinsip tersebut, menurut Herr Duhring, sangat sederhana. Kumpulan prinsip itu adalah setiap unsur atau komponen yang membangun sebuah pengetahuan atau kehendak.

Herr Duhring, dari paparan Engels, menganalogikan prinsip pengetahuan dan kehendak layaknya komposisi bahan kimia. Artinya, kita bisa mereduksi prinsip pengetahuan dan kehendak menjadi bentuk dan elemen dasar. Jika direduksi, maka Herr Duhring membagi prinsip-prinsip ini menjadi tiga lapisan. Lapisan itu adalah 1 skema umum tentang alam semesta; 2 sains tentang kaidah alam; dan 3 ilmu pengetahuan tentang umat manusia.

Penjelasan mengenai tiga unsur ini akan kita lihat dalam kritik Engels terhadap filsafat Herr Duhring nanti. Prinsip-prinsip Pengetahuan sebagai Metafisika Entah Herr Duhring mengatakan atau tidak, Engels menafsirkan bahwa lapisan prinsip ini mengandung urutan logika internal.

Maksudnya, Engels menilai bahwa Herr Duhring membagi realitas menjadi dua, yaitu ada being dan realitas konkret. Dalam hal ini, ada being berdiri pada ordinasi yang lebih tinggi. Pasalnya, objek-objek konkret akan mengaplikasikan diri mengikuti bentuk dari ada being tersebut. Jika disimpulkan, Herr Duhring memaksudkan prinsip tersebut sebagai bentuk metafisika.

Kita bisa tiba pada kesimpulan ini berangkat dari penjabarannya mengenai tugas prinsip tersebut. Prinsip-prinsip itu, menurut Herr Duhring, akan menyediakan suplemen akhir pada sains untuk membentuk sistem yang seragam.

Dengan sistem ini, maka sains dapat menjelaskan mekanisme kerja dari alam dan manusia. Saya merasa, bukti kedua ini penting untuk dielaborasi karena akan menjadi sasaran kritik dari Engels. Kita bisa mengatakan, menurut Herr Duhring, bahwa sains tidak akan bisa bekerja tanpa prinsip-prinsip ini.

Prinsip ini menjadi acuan di atas kertas kerja sains untuk membangun sistem. Sains akan menjelaskan kinerja alam dan manusia dengan mereferensi diri pada prinsip yang Duhring maksudkan. Pendeknya, prinsip ini menjadi prinsip formal resmi atau baku dari segala ilmu pengetahuan. Berdasarkan elaborasi dari bukti kedua ini, pemahaman kita terhadap tugas dari prinsip-prinsip, menurut Herr Duhring, menjadi jernih.

Tugas prinsip itu, pada dasarnya, adalah peran metafisika, yaitu untuk menjelaskan realitas yang terlihat atau tidak terlihat. Metode Berfilsafat Kita sudah melihat pengertian Herr Duhring mengenai filsafat dan segala unsur pembentuknya.

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana Herr Duhring meramu semua elemen yang ada sehingga menghasilkan sebuah pengetahuan? Dengan kata lain, bagaimana metode berfilsafat dari Herr Duhring? Bagi Herr Duhring, ranah pikiran murni yang akan mengolah semua prinsip yang tersedia menjadi seperangkat pengetahuan. Menurut Herr Duhring, ada dua ornamen yang bekerja dalam ranah pikiran murni, yaitu skema logika dan bentuk matematika. Mengapa Herr Duhring memilih skema logika dan bentuk matematika? Matematika, menurut Herr Duhring, mampu menciptakan sendiri konsep angka dan ruang.

Artinya, matematika independen dari pengalaman partikular di dunia nyata. Karena tidak terikat dari kenyataan, maka matematika, menurut Herr Duhring, menjadi sebuah disiplin ilmu yang murni. Kita mengenal pendekatan ini sebagai apriori. Dalam ilmu logika, apriori mengasumsikan bahwa penjelasan reasoning selalu mendahului konsekuensi.

Lalu, dia mengajukan beberapa kritik terhadapnya. Kritik tersebut terdiri dari tiga bagian. Pertama, Engels mempertanyakan persoalan epistemologi dari kerangka filsafat Herr Duhring. Kedua, Engels juga menyoroti konsekuensi jika filsafat Herr Duhring diterima. Terakhir, Engels menyampaikan posisinya mengenai filsafat dan kinerja filsafat itu sendiri.

Persoalan Epistemologi Engels menembak persoalan epistemologi sebagai peluru pertama untuk mengkritik Herr Duhring. Epistemologi adalah cabang ilmu filsafat mengenai dasar, justifikasi, keyakinan, dan hakikat sebuah pengetahuan.

Jika pun ada prinsip-prinsip pengetahuan yang mendasari filsafat, Engels bertanya dari mana asal-usul prinsip tersebut. Apakah dia lahir dengan sendirinya atau ada komponen lain yang membidaninya? Untuk menjawab ini, Engels berangkat dari kritik terhadap metode berfilsafat Herr Duhring.

Sebelumnya dikatakan, ranah pemikiran murni terbatas pada skema logika dan bentuk matematika. Namun, kedua entitas ini, menurut Herr Duhring, bersandar pada prinsip-prinsip pengetahuan. Dengan demikian, tahapan investigasi filsafat bermula dari penerimaan terhadap prinsip-prinsip tersebut. Lalu sejurus kemudian, proses penyelidikan untuk mencapai kesimpulan baru dapat terlaksana. Satu-satunya cara agar kita dapat mengerti hanya dengan menerima asumsi bahwa segala kategori dan skema—yang dimaksud Herr Duhring—sudah eksis di suatu tempat sebelum dunia tercipta—dari kekekalan.

Engels berpendapat bahwa kerangka berpikir ini datang dari Hegel. Kita mengenalnya dengan sebutan idealisme. Dengan kata lain, Engels ingin mengatakan bahwa bangunan sistem filsafat Herr Duhring tidak orisinal. Epigon berarti orang yang tidak memiliki gagasan baru dan hanya mengikuti jejak pemikir atau seniman yang mendahuluinya.

Walau mengejek Hegel sebagai pemikir yang tidak becus, Herr Duhring, pada dasarnya, adalah pengekor dari Hegel. Engels pun melanjutkan pembuktian bahwa Herr Duhring adalah plagiat dari Hegel. Kali ini, Engels mendedahkan lapisan prinsip-prinsip pengetahuan yang dimaksud Herr Duhring.

Berdasarkan Ensiklopedia Hegel, tiga lapisan prinsip pengetahuan a la Herr Duhring merupakan parafrase dari pemikiran Hegel. Pertama, skema umum tentang alam semesta disebut Hegel sebagai Logika. Kedua, sains tentang kaidah alam adalah filsafat tenang alam philosophy of nature. Terakhir, ilmu pengetahuan tentang umat manusia adalah filsafat tentang pikiran philosophy of mind. Konsekuensi Menerima Filsafat Herr Duhring Kritik kedua yang ditembakkan Engels terhadap filsafat Herr Duhring adalah dengan mengamati konsekuensi filsafat yang dibangunnya, yaitu membuang filsafat.

Pada dasarnya, Herr Duhring ingin menggeser basis realitas, yaitu dari dunia konkret ke dunia pikiran semata. Untuk menggenapi rencana ini, dia meletakkan skema umum tentang alam semesta menjadi dasar dari sistem filsafatnya. Kesimpulan akhir kenyataan konkret harus cocok dengan skema yang tersedia sebelumnya. Jika mekanisme ini yang digunakan, menurut Engels, kita tidak lagi membutuhkan filsafat, melainkan positive knowledge dan positive science.

Dalam versi Bahasa Indonesia, penerjemah menerjemahkan dua istilah ini positive knowledge dan positive science dalam satu istilah tunggal, yaitu pengetahuan positif. Walau ada kemiripan, sebenarnya dua istilah ini sedikit berbeda. Positive knowledge meyakini bahwa metafisika sebagai sebuah mode pengetahuan yang belum sempurna. Alasannya karena bentuknya masih abstrak atau tidak memiliki bukti konkret. Dengan begitu, positive knowledge membutuhkan verifikasi dari fenomena alam dengan segala relasi yang berkelindan di dalamnya.

Dalam hal ini, sains empiris akan menjalankan peran sebagai verifikatur pemeriksa kebenaran. Sementara itu, positive science bertindak lebih teknis. Secara abstrak, positive science akan menghasilkan sebuah teori ilmiah mengenai sistem realitas secara komprehensif. Dalam hal ini, positive knowledge dan positive science memiliki perbedaan yang tipis. Pertama, positive knowledge berangkat dari pengakuan pada metafisika. Sementara, positive science tidak menjadikan metafisika sebagai titik tolaknya, melainkan kenyataan konkret.

Kedua, positive knowledge bertanggung jawab untuk memverifikasi kenyataan agar sesuai dengan metafisika. Lain hal dengan positive science, dia bertugas untuk melakukan observasi terhadap realitas sehingga menghasilkan sebuah rumusan—yang bisa saja melawan konsepsi umum tentang metafisika. Positive knowledge dan positive science tentu saja bukan filsafat.

Pasalnya, dia sudah menentukan sebuah kondisi ideal tentang realitas terlebih dahulu, baru kemudian mencari pembenaran dalam realitas duniawi. Dalam istilah sekarang, kita mungkin menyebutnya dengan cocokologi. Sementara, positive science bukan juga filsafat melainkan fisikalisme—bukan materialisme versi Marx. Positive science berlandaskan materialisme tertutup yang beranggapan bahwa yang nyata adalah segala hal yang bisa ditangkap indera belaka.

JOAQUIN TURINA SEVILLANA PDF

Herrn Eugen Dühring's Umwälzung der Wissenschaft

There was no question of using force, force was employed only against the remnants of communal property in England in the eighteenth and nineteenth centuries, in Germany chiefly in the nineteenth century. InFriedrich Engels was born in Germany into a wealthy family. Petter rated it liked it Jul 18, As shown by the collapse of the Soviet Unionit turns out a capitalist culture of war is more efficient than a socialist culture of war. Where communal ownership gave rise to private ownership of land by individual peasants, the division among the members of the community took place purely spontaneously up to the sixteenth century; it was mostly a very gradual process and remnants of communal property generally continued to exist.

HAPPY PROJECTS GAREIS PDF

Membaca Anti-Duhring: Klasifikasi Apriorisme

.

GERZIC HIRURGIJA PDF

ENGELS ANTI DUHRING PDF

.

JOSHSTRENGTH METHOD PDF

Membaca Anti-Duhring: Skema Dunia

.

Related Articles